Langsung ke konten utama

Surat Cinta Untuk Indigo

Teruntuk kekasih yang amat aku sayangi dan aku cintai. Aku mengerti kamu akan sulit keluar dari takdirmu. Sebuah keindigoan yang akan terus membayangi seumur hidup. Sebagian orang disekelilingmu akan mengelu-elukanmu dan menganggapmu hebat, sebagian lainya akan memperlakukanmu seperti hewan buas yang harus dijinakkan.

Kekasihku, kau tau tidak kenapa kamu bisa indigo? Perkiraanku yang pertama, itu karena leluhurmu dulu ada yang mengikat janji dengan jin. Sehingga jin itu menjaga anak turunan leluhurmu, meskipun mereka bilang menjaga tapi sebenarnya tidak semulia itu. Kau tahu kan Jin bisa membaca pikiran kita tapi kita tidak. Jadi, alangkah tidak bijaknya kamu kalau lebih mempercayainya dibanding diriku yang tulus mencintaimu.

Lalu, perkiraan keduaku ada jin yang sengaja mengikutimu, bisa karena kamu sering atau pernah melepas penat ditempat-tempat yang ternyata kebetulan ada Jin yang sedang kesepian, atau juga bisa ketika kamu sedang terpuruk karena putus cinta, dikucilkan teman, atau kondisi rumahmu yang tak nyaman, lalu kamu membiarkan kesedihanmu berlarut-larut dan butuh sandaran tapi tak ada. Dari situ Jin akan mendekat, biasanya pada kasus ini kamu mengalami keindigoan hanya sejak waktu tertentu bukan sejak lahir.

Apapun penyebabnya, aku hanya berpesan kepadamu kekasih, Jadikan dirimu sebagai penyetir bukan yang di setir! Karena bagaimanapun derajat manusi lebih tinggi. Karena bagaimanapun sebaik-sebaiknya Jin adalah seburuk-buruknya manusia. Karena bagaimanapun aku akan selalu mencintaimu.
Meskipun, ada Tuhan yang jauh lebih cinta kamu.
Love you.

#indigo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sebuah Kebaikan tak Melulu di balas Dengan Kebaikan yang Sama

Suatu sore ketika suami saya sedang menunggu teman, ia menggerutu bertanya, kenapa saya harus selalu menunggu, padahal saya selalu datang tepat waktu ketika punya janji, Ah! Menyebalkan! Gerutu yang pendek tapi, akan saya coba beri penerangan biar ia tidak terus-terusan tenggelam dalam pertanyaan yang sama setiap kali menunggu! Perlu kamu ketahui, Mas. mungkin, suatu kebaikan itu tidak selalu dibalas dengan kebaikan yang sama. Tuhan membalas kebaikan dengan kebaikan yang memang kita butuhkan, jangan-jangan kamu mendapatkan aku sebagai istrimu itu merupakan kebaikanmu menunggu teman selama ini. "Maksudnya?" Suami saya belum nyambung sama bahasan saya. Begitu saja kamu nggak mengerti! Begini, misal kamu membantu nenek-nenek membawakan bakul yang berat, besoknya dijalan kamu membawa belanjaan banyak lalu dompetmu hilang, kira-kira mana yang lebih kamu butuhkan? orang yg membantu membawakan belanjaanmu atau orang yang menemukan dan mengembalikan dompetmu? Sudah tak perlu d...

Perusahaan Future Penipu? ; Pengalamanku di Perusahaan Future

Ini pengalamanku bekerja di salah satu perusahaan future/pialang berjangka.  Minggu lalu, aku baru aja dapet panggilan interview dan kemarin aku udah mulai training di pt. Cent*al Cap*ta* Future (maap aku sensor takutnya bermasalah). Sebenernya sebelumnya aku udah searching ttg perusahaan tersebut,  dan hasilnya mayoritas mereka bilang perusahaan ini penipu. Oiya sebelumnya perusahaan future/pialang berjangka ini ada perusahaan yang menawarkan jasa ekonomi non bank,  seperti investasi atau saham. Awalnya aku melamar di bagian admin tapi aku dipindah ke PO (Portofolio officer) yang tugasnya adalah mengelola uang nasabah pakai forex atau kami disebut trader, jadi untung ruginya investor itu ada ditangan trader. Hari pertama aku training aku cemas sekaligus ingin tahu apa benar perusahaan ini penipu atau bukan. Training dari jam 9.30-15.00 dengan materi pengenalan aplikasi forex dan pengenalan ttg perusahaan. Hari pertama aku nggak mencium adanya penipuan, aku pun nggak d...

Cermin - Maneqin Dalam Toples

"Aku mau dia, ibu!" Kataku memaksa. Wanita dihadapanku yang kelihatan sepuluh tahun lebih muda diusia senjanya itu terenyak, menyandera bola mataku kuat-kuat. "Tidak." Katanya tegas. "Sudah ibu siapkan jodoh untukmu." "Kenapa? Bukankah katamu, seorang ibu akan bahagia jika mendapati anaknya bahagia juga? Berarti ibu bohong kepadaku, pembohong." Bentakku. "Alina!" Panggilan ibu menahanku yang hendak pergi dengan lelaki yang ku perjuangkan hidup mati di wajahnya. "Tidak akan pernah ada seorang ibu yg bahagia jika melihat anak semata wayangnya mencintai lelaki mainan seperti itu." Senyap. Hanya ada suara nafasku yang berkejaran. Semakin erat aku menggenggam lelaki yang kusebut-sebut kekasih. Pelan-pelan aku beranikan diri mencari perlindungan dari air mukanya. Namun, tetap saja dia hanya berdiri tanpa gerak, di dalam toples