Langsung ke konten utama

Sebuah Kebaikan tak Melulu di balas Dengan Kebaikan yang Sama

Suatu sore ketika suami saya sedang menunggu teman, ia menggerutu bertanya,
kenapa saya harus selalu menunggu, padahal saya selalu datang tepat waktu ketika punya janji, Ah! Menyebalkan!
Gerutu yang pendek tapi, akan saya coba beri penerangan biar ia tidak terus-terusan tenggelam dalam pertanyaan yang sama setiap kali menunggu!
Perlu kamu ketahui, Mas. mungkin, suatu kebaikan itu tidak selalu dibalas dengan kebaikan yang sama. Tuhan membalas kebaikan dengan kebaikan yang memang kita butuhkan, jangan-jangan kamu mendapatkan aku sebagai istrimu itu merupakan kebaikanmu menunggu teman selama ini.

"Maksudnya?" Suami saya belum nyambung sama bahasan saya.

Begitu saja kamu nggak mengerti! Begini, misal kamu membantu nenek-nenek membawakan bakul yang berat, besoknya dijalan kamu membawa belanjaan banyak lalu dompetmu hilang, kira-kira mana yang lebih kamu butuhkan? orang yg membantu membawakan belanjaanmu atau orang yang menemukan dan mengembalikan dompetmu? Sudah tak perlu dijawab aku pun sudah tau jawabanmu!
Karena kamu punya simpanan pahala dari membantu nenek itu tadi Tuhan menggantinya dengan mengirimkan orang jujur untuk mengembalikan dompetmu.

"Lalu bagaimana kalau ternyata kelak pahalaku habis?", Wajahnya cemas.

Ya paling setiap hari sial terus.

"Kok begitu?" Sekarang giliran alisnya yang naik sebelah.

Sini-Sini ku buatkan tabel sinkronisasi antara pahala-kebaikan yang diterima-keburukan yang diterima.

"Kalau begitu kenapa tetangga kita Nini kusut yang sering pamer itu masih saja tokonyalaris? Bukankah toko laris itu sebuah balasan dari pahala kebaikan, padahal sedekah senyum saja dia tidak pernah kerjanya hanya kumpul-kumpul pamer gelang segambreng." Perasaanya mulai terusik, menuntut keadilan.

Begini-begini kamu masih ingat kan Tuhan pernah bilang, kalau Dia akan memberi 1 pahala kepada orang yg baru berniat berbuat baik dan tidak akan mencatatnya sebagai dosa jika belum dilakukan. Jadi, ketika Nini kusut berniat mau menolong AA biar kelihatan dermawan, misal. Ayuk kita hitung, ingin menolong AA = Niat berbuat baik = 1 pahala, biar kelihatan dermawan = Niat berbuat buruk = 0 pahala/tidak dihitung dosa, jadi totalnya adalah 1+0 = 1 pahala berarti, mendapatkan 1 balasan kebaikan.

"Kalau ternyata dilaksanakan?"

Kalau dilaksanakan Ayuk kita hitung lagi,  berniat menolong AA = 1 pahala, berniat pamer = 0, melaksanakan menolong AA = 1 pahala, melaksanakan pamer = 1 dosa berarti totalnya adalah 1 + 0 + 1 + (-1) = 1 pahala dibalas 1 kebaikan, ini kalau melaksanakan kebaikan = 1 pahala dan kalau melaksanakan keburukan = 1 dosa loh ya, Mas. Kalau ternyata nominal hitungnya beda ya beda lagi. *Haha.

"Kok kamu jadi nggak jelas begitu."

Bukan nggak jelas, saya hanya sedang berkhusnudzon sama Tuhan, Mas.

"Lho, kalau begitu Tuhan benar terus."

Kan Tuhan memang Maha benar.
Pembicaraan berakhir.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perusahaan Future Penipu? ; Pengalamanku di Perusahaan Future

Ini pengalamanku bekerja di salah satu perusahaan future/pialang berjangka.  Minggu lalu, aku baru aja dapet panggilan interview dan kemarin aku udah mulai training di pt. Cent*al Cap*ta* Future (maap aku sensor takutnya bermasalah). Sebenernya sebelumnya aku udah searching ttg perusahaan tersebut,  dan hasilnya mayoritas mereka bilang perusahaan ini penipu. Oiya sebelumnya perusahaan future/pialang berjangka ini ada perusahaan yang menawarkan jasa ekonomi non bank,  seperti investasi atau saham. Awalnya aku melamar di bagian admin tapi aku dipindah ke PO (Portofolio officer) yang tugasnya adalah mengelola uang nasabah pakai forex atau kami disebut trader, jadi untung ruginya investor itu ada ditangan trader. Hari pertama aku training aku cemas sekaligus ingin tahu apa benar perusahaan ini penipu atau bukan. Training dari jam 9.30-15.00 dengan materi pengenalan aplikasi forex dan pengenalan ttg perusahaan. Hari pertama aku nggak mencium adanya penipuan, aku pun nggak d...

Cermin - Maneqin Dalam Toples

"Aku mau dia, ibu!" Kataku memaksa. Wanita dihadapanku yang kelihatan sepuluh tahun lebih muda diusia senjanya itu terenyak, menyandera bola mataku kuat-kuat. "Tidak." Katanya tegas. "Sudah ibu siapkan jodoh untukmu." "Kenapa? Bukankah katamu, seorang ibu akan bahagia jika mendapati anaknya bahagia juga? Berarti ibu bohong kepadaku, pembohong." Bentakku. "Alina!" Panggilan ibu menahanku yang hendak pergi dengan lelaki yang ku perjuangkan hidup mati di wajahnya. "Tidak akan pernah ada seorang ibu yg bahagia jika melihat anak semata wayangnya mencintai lelaki mainan seperti itu." Senyap. Hanya ada suara nafasku yang berkejaran. Semakin erat aku menggenggam lelaki yang kusebut-sebut kekasih. Pelan-pelan aku beranikan diri mencari perlindungan dari air mukanya. Namun, tetap saja dia hanya berdiri tanpa gerak, di dalam toples