"Aku mau dia, ibu!" Kataku memaksa.
Wanita dihadapanku yang kelihatan sepuluh tahun lebih muda diusia senjanya itu terenyak, menyandera bola mataku kuat-kuat.
"Tidak." Katanya tegas. "Sudah ibu siapkan jodoh untukmu."
"Kenapa? Bukankah katamu, seorang ibu akan bahagia jika mendapati anaknya bahagia juga? Berarti ibu bohong kepadaku, pembohong." Bentakku.
"Alina!" Panggilan ibu menahanku yang hendak pergi dengan lelaki yang ku perjuangkan hidup mati di wajahnya.
"Tidak akan pernah ada seorang ibu yg bahagia jika melihat anak semata wayangnya mencintai lelaki mainan seperti itu."
Senyap. Hanya ada suara nafasku yang berkejaran. Semakin erat aku menggenggam lelaki yang kusebut-sebut kekasih. Pelan-pelan aku beranikan diri mencari perlindungan dari air mukanya. Namun, tetap saja dia hanya berdiri tanpa gerak, di dalam toples
Komentar
Posting Komentar