Wisuda itu momen menyenangkan untuk mereka yg sudah kelelahan ngampus dan skripsi. Kalau perempuan, biasanya dia akan menjahit kebaya di tukang jahit atau beli gamis baru di Rita Mall atau yang lebih irit sewa kebaya kece di salon masa kini, pokoknya kalau pas moment wisuda itu banyak bidadari yang berkeliaran di kampus.
Kehebohan belum cukup sampai disitu saja, sarjanawan dan wati juga membawa turut serta sanak saudara bahkan beberapa tetangga dekat untuk ikut rombongan carter mobil avanza sampe pick up dan minibus, setelah itu dirayakan dengan makan-makan di paketan sambelayah.
Suatu pemandangan yang biasa, tapi akan menjadi berbeda ketika kamu mungkin melihat saya wisuda, naik motor sendiri pakai kebaya dan yang menemani cuma bapak dan ibu boncengan pake motor tetangga. Ini mirip kaya mau ngambil rapor, cuma ngambil rapornya ini sekalian karnaval jadi agak menor. Haha!!
Kalau ditanya perasaan saya saat itu, saya lebih merasa sedih daripada bahagia. Sedih karena saya akan meninggalkan zona nyaman, yang paling berat aku akan makin jarang liat wajah laki-laki yang sering kupandangi diam-diam dikelas itu, tentunya tak ada jg uang saku rutin, lalu diluar akan selalu ditanya kapan kerja, Kalo enggak kerja akan jd bahan gunjingan abadi. Ah!! Itu kerjaan emak-emak tetangga yang ngegemesin kepengin di cokot!!
Selesai acara, orang tua saya langsung pulang duluan, saya menunggu dipinggiran air mancur duduk sambil ngeliatin kerumunan wisudawan-wati di kasih bunga dan boneka, berharap ada yg ngasih tapi enggak juga. Aku kesepian, meskipun sepi itu rasanya sudah terlalu biasa tapi ini sepinya bertambah karena melihat laki-laki yang aku suka sejak awal kuliah itu ternyata sedang memasang muka sendu juga, sepertinya sendu atau memang mukanya begitu. ya begitulah, laki-laki itu memang selalu membuatku bertanya-tanya akan isi hatinya. Ada dua tangkai bunga ditanganya entah dari atau untuk siapa.
Meskipun aku sudah mendapat sebuket bunga mawar dari pacarku, tapi Aku tetap sengaja mencuri ruang didekatnya setidaknya berusaha mencuri perhatian agar dia merasakan keberadaanku, siapa tau dengan melihatku dia akan memberiku satu bunga, tapi lagi-lagi kenyataan yang ku mau hanyalah dongeng. Aku tahu, tidaklah pantas perempuan yang sudah dipacari mendambakan orang lain tapi, kalau Tuhan sudah menghendaki aku bisa apa? Lagiyan aku yakin mendambakan orang lain itu bukan perbuatan dosa.
Aku memperhatikan dia beberapa waktu dan seperti yang ku duga pandanganya sedang menanti seseorang yang ingin dia lihat; wanita yang ia suka.
#Cintadiamdiam #AkuSukaKamutapiKamuEnggak #LakiLakidalamlamunan #Lakilaki #wisuda
Komentar
Posting Komentar